Senin, 17 September 2007

Musibah Borobudur dan Gapteknya Kita

Oleh : Bambang Haryanto

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Borobudur tidak terpilih sebagai salah satu keajaiban dunia yang baru. Sebagian fihak berkomentar, musibah ini akan berdampak dengan menurunnya kunjungan wisatatawan manca negara ke candi Buddha monumental itu. Sementara artikel Saratri Wilonoyudho (Kompas Jawa Tengah, 11/7/2007) menyebut bencana itu akibat dari kuatnya pengaruh politik bisnis pariwisata internasional, di mana seolah di luar sana ada kartel atau mafia yang kompak dan beramai-ramai memusuhi diri kita.

Sebenarnya musibah itu terjadi karena pemerintah dan dunia industri pariwisata kita yang gagap teknologi dan telat mikir. Kesalahan fatal itu membuat bangsa besar yang berpenduduk lebih dari 200 juta itu ibarat orang bisu di tataran global. Kita kalah vokal dibanding Brazil atau bahkan negara kecil berpenduduk 7 juta, Jordania. Situs bersejarah mereka kini menjadi terpilih di antara tujuh kejaiban dunia yang baru tersebut.

Menengok ke belakang, ide membuat daftar tujuh keajaiban dunia dirintis oleh Philon, petualang dan matematikawan asal Bysantium, 150 tahun sebelum kelahiran Jesus Kristus. Hasil pengamatan dalam perjalanannya saat itu telah ia tuliskan dalam makalah singkat De Septem Orbis Spectaculis atau Tujuh Keajaiban Dunia. Antara lain ia pilih Piramid Besar Cheops di Giza (Mesir), Taman Gantung Babilonia (Irak), Patung Zeus di Olimpia (Yunani), Candi Diana di Ephesus (Turki), Makam Raja Mausolus di Halikarnasus (Turki), Kolosus Rhodes di Laut Aegea dan Mercu Suar Pharos di Aleksandria (Mesir). Satu-satunya situs dalam daftarnya yang masih lestari hingga kini hanya Piramid Besar di Mesir.

Di era Internet ini, ide Philon mengilhami Bernard Weber asal Swiss, untuk melakukan hal yang sama. Penjelajah alam, pembuat film dan kurator museum itu meluncurkan gagasannya tahun 1999. Ia mendirikan lembaga nirlaba The New7Wonders Foundation guna mengajak warga dunia bekerja sama menyelamatkan alam dan warisan budaya buatan manusia. Warisan sejarah budaya yang terancam rusak atau hancur, menurutnya, berpotensi terselamatkan apabila keadaannya dipublikasikan secara meluas melalui media cetak, TV, Internet, sampai buku sehingga menjadi perhatian warga dunia. Tentang proyeknya tersebut, seperti dikutip Newsweek (31/7/2006) ia mengatakan bahwa tujuh keajaiban dunia yang lama hanya dipilih satu orang. “Di alam yang demokratis dewasa ini harus terbuka peluang bagi setiap orang untuk aktif berperanserta dalam menciptakan pengetahuan bersama,” tuturnya.

Ide Weber disambut antusias di Brazil. Pemerintahnya, didukung swasta, segera meluncurkan kampanye Vote no Cristo secara besar-besaran, mengajak warga Brazil memilih Patung Jesus Sang Penebus di Gunung Corcovado di Rio de Janeiro, yang merupakan landmark negaranya. Untuk itu warga dibebaskan dari biaya telepon untuk ikut memilih. Pesan-pesan singkat (SMS) berbunyi “Kirim ke 4916, pilih Jesus Sang Penebus, dan gratis” membanjiri telepon seluler warga Brazil. Bahkan sampai karcis bis kota, iklan-iklan hingga reality show di televisi yang didukung artis-artis Brazil serempak berisi ajakan guna mengajak warga negeri samba itu untuk ikut berperanserta.

Sementara di Jordania, kota kuno Petra dikampanyekan dengan melibatkan Ratu Rania Al-Abdullah. Kampanye yang gilang-gemilang. Kita tahu, Jordania senyatanya hanya berpenduduk di bawah 7 juta orang. Tetapi objek bersejarah yang terletak di Lembah Musa, di masa lalu merupakan pusat perdagangan rempah-rempah yang melibatkan pedagang dari Cina, Mesir,Yunani dan India (boleh jadi asal rempah-rempahnya dari Indonesia !), akhirnya memperoleh suara melebihi 14 juta suara.

Kita bertanya : dalam hiruk-pikuk jajak pendapat secara internasional itu, yang diluncurkan Bernard Weber sejak 2001, di mana suara kita ? Di mana pula sepak terjang atau prakarsa pemerintah, juga dunia industri pariwisata kita selama ini ? Memang jajak pendapat itu tidak sepi dari kritik. Badan PBB, UNESCO, menyatakan tidak punya kaitan dengan prakarsa swasta tersebut. Hasil yang diumumkan di Lisabon Portugal tanggal 07-07-07 yang lalu disebutnya "hanya cerminan opini mereka yang memiliki akses terhadap Internet.”

Pendapat PBB itu mungkin kita setujui, boleh jadi sebagai sekadar pengobat ketersinggungan atau rasa kecewa berat kita karena Candi Borobudur tidak termasuk dalam daftar baru tersebut. Tetapi kalau kita sendiri selama ini tidak pernah melakukan upaya apa-apa, apa kita berhak untuk marah-marah dan lalu mengkambing hitamkan fihak lain sebagai penyebabnya ? Padahal jajak pendapat itu diklaim diikuti 100 juta suara. Ketika terpilih 21 finalis, Candi Borobudur juga tidak termasuk di dalamnya.

Musibah Borobudur itu senyatanya hanya menunjukkan ke-gaptek-an kita. Mungkin kita masih buta atau bahkan memandang rendah kedigdayaan Internet yang oleh “nabi digital” Nicholas Negroponte dari MIT didaulat sebagai gempa bumi berskala 10,5 Richter yang mengguncang peradaban umat manusia. Mungkin kita sudah lupa bahwa kejatuhan rezim Orde Baru di tahun 1998 tidak lain juga akibat Internet, di mana gerakan mahasiswa se-Indonesia mampu saling berkoordinasi melalui email untuk melakukan aksi bersama secara serempak.

Nasi memang sudah jadi bubur untuk Borobudur. Tetapi merujuk pendapat yang muncul, saya jadi pesimistis apakah bangsa Indonesia mampu tidak seperti keledai yang suka mengulangi kesalahan serupa. Karena The New7Wonders Foundation sekarang ini (!) sudah pula meluncurkan jajak pendapat melalui Internet, di situsnya http://www.natural7wonders.com/, untuk memilih tujuh keajaiban alam yang baru. Jajak pendapat berlangsung hingga tahun depan, 8 Agustus 2008 (08-08-08). Di mana suara Anda, pemerintah kita dan dunia industri pariwisata Indonesia ?

Bambang Haryanto, praktisi komunikasi di Internet. Tinggal di Wonogiri.

*)Artikel ini telah dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Rabu, 12 September 2007.

ti

Tidak ada komentar: